Rabu, September 02, 2020

Boleh ambil kafalah atau ambil upah dari Ruqyah

CATATAN MARI

Kemaren buat majelis Ruqyah dijl.Bosih cibitung..baru nemu pasien jujur liat wajah kita katanya langsung enek perutnya,pas baru mulai udah muntah2.
Alhamdulillah bangsa jin yg mengganggu keluar lewat muntahan.
Umumnya bangsa jin keluar lewat muntah, keringet,air mata,pipis atau pup.

 Jika ada gangguan jin hebat emang peruqyah itu ngk disukai pasiennya,krn mereka(bangsa jin) yg didlm sudah terganggu keberadaannya,mereka enggan untuk keluar,maka banyak kejadian,peruqyah jadi sasaran fitnah pasiennya.
krn dengan jauh dari peruqyah,maka aman buat mereka(bangsa jin) menguasai pasien tersebut.dan tergantung tujuan jin itu masuk; ada yg hanya menguasai jiwanya,ada yg jiwa dan raganya, ada yg ingin melumpuhkan,membuat cidera organ atau membunuh pasien tersebut.

Maka profesi peruqyah jadi tidak aman untuk keselamatan,diri dia dan nyawanya sendiri jadi taruhan.karna begitu banyak kejadian,peruqyah jadi sasaran serangan bangsa jin atau para kahin(dukun) yang tidak terima target manusianya sembuh.

Sangat disayangkan pengorbanan peruqyah dipandang sebelah mata,dengan materi yg masih terukur,yg tidak seberapa.
Maka jangan coba2 masuk dunia peruqyah jika kesabarannya tipis.
Khusus buat peruqyah stock sabar harus ditambah kan terus setiap saat, ketika menangani pasien yg beraneka jenis gangguan ghoib dan beda2 karakternya.

Peruqyah Al-Qur'an atau Peruqyah Syar'iyah punya tujuan mulia,sebagai pelayan Al-Qur'an. Sehingga pasien bisa hijrah memperbaiki ibadah yang sering dilalaikannya.
Selain itu tujuan Peruqyah yg sebenernya bukan hanya membantu proses kesembuhan pasien, tapi mendakwahi bangsa jin yg ada dalam tubuh pasien agar menjadi jin Muslim dan pasien semakin kuat ibadahnya kepada Rabb semesta alam.

Sebenernya dakwah Islam bukan hanya hak manusia saja,tapi bangsa jin juga punya hak yg sama.karna tujuan penciptaan kita sama dihadapan Allah Rabbul Izzati.
Firman Allah Ta’ala:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون

“Tidak Aku ciptakan jin dan Manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.”
 (QS. Adz –Dzariyat: 56 )

segmen ini para dai jarang yg berkecimpung, peruqyah lah jadi garda terdepan dakwah untuk jin khususnya dan pasien(manusia)pada umumnya.

Profesi yg mulia, Dai untuk jin dan manusia.
Dalam kisah terdahulu, ada Sahabat Nabi Meruqyah kepala suku yg sakit akibat tersengat binatang berbisa,ini binatang beneran atau jelmaan bangsa jin.

Sahabat Abu Said Al Khudri radhiallahu ‘anhu mengisahkan bahwa ia bersama sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melintasi satu kabilah Arab Badui, dan ternyata mereka enggan untuk memberikan jamuan. Di saat para sahabat Nabi sedang beristirahat, tiba-tiba kepala suku penduduk kampung tersebut disengat oleh binatang berbisa. Tak ayal lagi, penduduk kampung tersebut berupaya sekuat tenaga untuk mengobati kepala suku mereka. Akan tetapi, upaya yang mereka lakukan semuanya sia-sia, tidak mendatangkan hasil. Akhirnya mereka menjumpai para sahabat yang sedang beristirahat dan berkata, “Adakah bersama kalian obat atau seorang yang ahli Ruqyah?” Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh para sahabat untuk membalas perilaku penduduk kampung yang tidak simpatik terhadap mereka. Para sahabat berkata, “Sesungguhnya kalian tidak sudi menjamu kami, maka sekarang kami pun tidak sudi untuk meruqyah kecuali jika kalian memberi kami upah.” Tanpa menunda panjang, mereka pun setuju dan menjanjikan upah beberapa ekor kambing.
Akhir kisah, setelah disepakati upah yang dijanjikan, sebagian sahabat, yaitu Abu Sa’id Al Khudri meRuqyahnya dengan bacaan Al Fatihah sebanyak tujuh kali. Tanpa butuh waktu yang lama, kepala suku itu segera sembuh seakan terbebas dari belenggu yang melilit tubuhnya.
Setelah upah berupa beberapa ekor kambing diterima, segera sebagian sahabat mengusulkan agar upah itu dibagi merata di antara mereka. Akan tetapi Abu Sa’id tidak menerima usulan ini, dan berkata, “Janganlah kalian terburu-buru untuk membaginya, hingga kita menanyakan perihal upah ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Setiba mereka di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, segera mereka menceritakan perihal upah tersebut. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanggapi kisah mereka dan upah yang mereka dapat dengan bersabda, “Dari mana engkau mengetahui bahwa surat Al Fatihah dapat dijadikan untuk meRuqyah? Kemudian beliau melanjutkan sabdanya dengan berkata: kalian telah berbuat benar, bagilah upah itu, dan sertakan aku dalam pembagian upah yang kalian dapatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dalam dalil diatas jelas bolehnya menyepakati kafalah ruqyah, membantu pasien yg mampu.
Dengan acuan satu ekor kambing, jika sekarang dirupiahkan sekitar 1,5jt-3jutaan.

Membantu dan melayani ummat adalah kebanggaan tersendiri bagi setiap muslim,moga peruqyah bisa istiqomah dijalan ini, dengan banyak ujian dan cobaannya.
Ana yakin para Peruqyah adalah insan2 yang ikhlas, dan pasien2 nya adalah orang2 yang berbudi luhur, sehingga saling melengkapi kekurangan yg ada.

Jika ada pasien dhuafa, seperti yg saya alami sendiri, kerupukpun jadi sebagai kafalahnya.tak mandang bulu dalam membantu, insya Allah jika kita ikhlas Allah yg akan menyempurnakannya kelak dikemudian hari.

Setiap ba'da sholat doa kesembuhan selalu buat pasien yang saya tangani.

Catatan untuk para Peruqyah dimanapun antum berada.semoga dalam penjagaan Allah selalu...aamiin.

Owner Majelis Ruqyah Indonesia
Markaz JATIASIH, 2 Sep 2020