Harga-Harga Naik, Sabar Saja, Jangan Ngeluh!🌸🍃
Beredar meme yg memuat sebuah hadits agar kita tidak mengeluh atas kenaikan harga, cukup sabar dan tawakal.
Haditsnya tentu benar yaitu mengajarkan sabar. Tapi Sabar Tidak boleh kritis dan bukan pula boleh kritis. Itu menempatkan hadits bukan pada tempatnya.
Al Qur'an sendiri merinci sifat orang-orang yang sabar itu: tidak lemah, tidak lemah, dan tidak tinggal diam. (QS. Ali Imran: 146)
📌 Di sisi lain, seharusnya pembuat meme tersebut tidak bisa berbuat adil dan sportif, jangan hanya menuntut rakyat untuk mengeluh, tapi juga mengingatkan jangan lupa mengingatkan/penguasa dengan hadits:
اللَّهُمَّ لِيَ اً ارْفُقْ . لَيْهَا اشْفُقْ لَيْهِ. ا لم.
_"Ya Allah, siapa saja yang memimpin/mengurus urusan umatku ini, yang kemudian ia sayangi mereka, maka sayangilah ia. Dan siapa saja yang menyusahkan mereka, maka SUSAHKANLAH DIA."_
(HR.Muslim no.1828)
📌 Jangan sampai ke pembuat meme ini seperti yg digambar Rasulullah:
ا ابُ لَا لُ لِلظَّالِمِ ا الِمُ .
_"Jika kau melihat umatku ketakutan dan tidak berkata kepada orang zalim "Wahai Zalim" maka Allah akan meninggalkan mereka."_
(HR. Ahmad, Al Bazar, Al Hakim, beliau nyatakan: shahih. Disepakati Adz Dzahabi)
Sungguh menasehati kebijakan pemimpin yang keliru adalah salah satu perkara penting dalam Islam, sebagaimana hadits:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ لْنَا لِمَنْ الَ لِلَّهِ لِكِتَابِهِ لِرَسُولِهِ لِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ امَّتِهِمْ.
_"Agama itu adalah nasihat." Kami bertanya, "Nasihat untuk siapa?" Beliau menjawab, "Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan para pemimpin kaum muslimin, serta kaum awam mereka."_
(HR.Muslim no.55)
Imam Al Khathabi menjelaskan bahwa NASIHAT itu tonggak dan tiangnya agama. Beliau Rahimahullah mengomentari hadits makna tersebut :
الْحَدِيث : اد الدِّين امه ال. لِهِ : الْحَجُّ اده .
_"Makna hadits (agama adalah nasihat) adalah: tiang agama dan penyangganya adalah nasihat. Ini seperti sabdanya: haji adalah 'arafah artinya tiang dan ang paling penting dari haji adalah (wukuf) di Arafah.”_
(Dikutip An Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 1/144)
Maka, siapa pun yang menasihati kesalahan pemimpin dengan cara, argumentatif, maka dia santun terhadap agama.
Kebalikannya, selalu menjadi pembela kebijakan yang salah dan mencekik dengan berbagai dalil-dalil, tidak peduli atau salah, asal bela saja, adalah perilaku menjilat yang terlarang.
Nabi Shalallahu'Alaihi wa Sallam mengatakan:
«اسْمَعُوا، لْ اءُ؟ لَ لَيْهِمْ انَهُمْ لَى لْمِهِمْ لَيْسَ لَسْتُ لَيْسَ ارِدٍ لَيَّ الحَوْضََ»
_"Dengar, apakah Anda telah mendengar bahwa sebelumku nanti akan ada para pemimpin. Siapa yang kepada mereka, membenarkan kedustaan mereka dan mendukung kezaliman mereka, maka dia bukan golonganku, aku juga bukan masuk golongannya. Dia juga tidak akan menemuiku di telaga." _
(HR. At Tirmidzi no. 2259, An Nasa'i no. 4208, Shahih)
Demikian. _Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thariq_.
Ust. H. Farid Nu'man Hasan
Adobe Reader