Senin, September 08, 2008

KHATAM AL-QUR'AN MUDAH KOK....

Nuzulul Qur'an Sebagai Peringatan atau Pelajaran



Pada bulan Ramadhan banyak umat Islam yang menggelar

acara peringatan Nuzulul Qur'an. Untuk itu perlu

kiranya kali ini menyoroti masalah Nuzulul Qur'an,

hukum memperingatinya dan fungsi utama diturunkannya

Al-Qur'an.



Syekh Shafiyur Rahman Al-Mubarakfuriy (penulis Sirah

Nabawiyah) menyatakan bahwa para ahli sejarah banyak

berbeda pendapat tentang kapan waktu pertama kali

diturunkannya Al-Qur'an, pada bulan apa dan tanggal

berapa, paling tidak ada tiga pendapat :



Pertama: Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur'an

itu ada pada bulan Rabiul Awwal,



Kedua: Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur'an

itu pada bulan Rajab,



Ketiga: Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur'an

itu pada bulan Ramadhan.



Yang berpendapat pada bulan Rabiul Awwal pecah menjadi

tiga, ada yang mengatakan awal Rabiul Awwal, ada yang

mengatakan tanggal 8 Rabiul Awwal dan ada pula yang

mengatakan tanggal 18 Rabiul Awwal (yang terakhir ini

diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallaahu anhu).



Kemudian yang berpendapat pada bulan Rajab terpecah

menjadi dua. Ada yang mengatakan tanggal 17 dan ada

yang mengatakan tanggal 27 Rajab (hal ini diriwayatkan

dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu -lihat Mukhtashar

Siratir Rasul, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul

Wahhab An-Najdy, hal.75 -).



Al Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam Fathul Bari

berkata bahwa: Imam Al-Baihaqi telah mengisahkan bahwa

masa wahyu mimpi adalah 6(enam) bulan.



Maka berdasarkan kisah ini permulaan kenabian dimulai

dengan mimpi shalihah (yang benar) yang terjadi pada

bulan kelahirannya yaitu bulan Rabiul Awwal ketika

usia beliau genap 40 tahun. Kemudian permulaan wahyu

yaqzhah (dalam keadaan terjaga) dimulai pada bulan

Ramadhan.



Sesungguhnya kita menguatkan pendapat yang mengatakan

bahwa Nuzulul Qur'an ada pada bulan Ramadhan karena

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, artinya, "Bulan

Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan

(permulaan) Al-Qur'an" (Al-Baqarah:185 ).

Dan Allah berfirman, artinya, "Sesungguhnya Kami telah

menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan"

(Al-Qadr :1).



Seperti yang telah kita maklumi bahwa Lailatul Qadr

itu ada pada bulan Ramadhan yaitu malam yang

dimaksudkan dalam firman Allah yang artinya:

"Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang

diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi

peringatan" (Ad-Dukhaan:3 ).



Dan karena menyepinya Rasulullah Shallallahu alaihi

wasallam di gua Hira' adalah pada bulan Ramadhan, dan

kejadian turunnya Jibril as adalah di dalam gua Hira'.

Jadi Nuzulul Qur'an ada pada bulan Ramadhan, pada hari

Senin, sebab semua ahli sejarah atau sebagian besar

mereka sepakat bahwa diutusnya beliau menjadi Nabi

adalah pada hari Senin. Hal ini sangat kuat karena

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam ketika ditanya

tentang puasa Senin beliau menjawab: "Di dalamya aku

dilahirkan dan di dalamnya diturunkan (wahyu) atasku"

(HR. Muslim).



Dalam sebuah lafadz dikatakan "Itu adalah hari dimana

aku dilahirkan dan hari dimana aku diutus atau

diturunkan (wahyu) atasku"(HR. Muslim, Ahmad, Baihaqi

dan Al-Hakim).



Akan tetapi pendapat ketiga inipun pecah menjadi lima,

ada yang mengatakan tanggal 7 (hari Senin), ada yang

mengatakan tanggal 14 (hari Senin), ada yang

mengatakan tanggal 17 (hari Kamis), ada yang

mengatakan tanggal 21 (hari Senin) dan ada yang

mengatakan tanggal24 (hari Kamis).



Pendapat " 17Ramadhan" diriwayatkan dari sahabat

Al-Bara' bin Azib dan dipilih oleh Ibnu Ishaq,

kemudian oleh Ustadz Muhammad Huzhari Bik.



Pendapat " 21Ramadhan" dipilih oleh Syekh

Al-Mubarakfuriy, karena Lailatul Qadr ada pada malam

ganjil, sedangkan hari Senin pada tahun itu adalah

tanggal7 ,14 , 21 dan28 .



Sedangkan pendapat " 24Ramadhan" diriwayatkan dari

Aisyah, Jabir dan Watsilah bin Asqo' , dan dipilih

oleh Ibnu Hajar Al-Haitamiy, ia mengatakan: "Ini

sangat kuat dari segi riwayat".



Karena itu memperingati peristiwa turunnya Al-Qur'an

pertama kali tidaklah penting, sebab di samping hal

itu tidak dicontohkan oleh Rasulullah, para sahabatnya

dan para tabi'in, Al-Qur'an diturunkan tidaklah untuk

diperingati tetapi untuk memperingatkan kita.



Peristiwa Nuzulul Qur'an bukanlah diharapkan agar

dijadikan sebagai hari raya oleh umat ini, yang

dirayakan setiap tahun, karena Islam bukanlah agama

perayaan sebagaimana halnya agama-agama lain."



Islam tidak memerlukan polesan, tidak perlu dibungkus

dengan perayaan-perayaan yang membuat orang-orang

tertarik kepadanya. Karena itu pesta hari raya tahunan

di dalam Islam hanya ada dua yaitu Idul Fitri dan Idul

Adha.



Jadi turunnya Al-Qur'an bukan untuk diperingati setiap

tahunnya, melainkan untuk memperingatkan kita setiap

saat.



Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan, artinya: "Alif

Lam Mim Shaad. Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan

kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam

dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan

dengan kitab itu (kepada orang kafir) dan menjadi

pelajaran bagi orang-orang yang beriman" (Al-A'raaf:1

-2).



Bukan Cara Salafus Shalih

Memperingati peristiwa turunnya Al-Qur'an bukanlah

cara orang-orang shaleh yang muttaqin. Akan tetapi

jejak ulama-ulama salaf adalah membaca Al-Qur'an,

membaca dan membaca lagi. Allah Subhaanahu Wa Ta'ala

berfirman, artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang

selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat, dan

menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami anugerahkan

kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan,

mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan

merugi" (Faathir:29 ).



Apalagi di bulan Ramadhan, bulan Al-Qur'an ini, Umar

radhiallaahu anhu berkata: "Seandainya kita bersih,

tentu akan merasa kenyang dari kalam Allah.

Sesungguhnya aku amat tidak suka manakala datang

sebuah hari sementara aku tidak membaca Al-Qur'an."



Karena itu beliau tidak meninggal dunia sehingga

mushafnya sobek karena seringnya dibaca. Dan ketika

menjadi imam pada shalat shubuh beliau sering membaca

surat Yusuf yang terdiri dari 111 ayat tertulis dalam

13 halaman, yang berarti satu sepertiga juz.



Hal ini tidak mengherankan karena khalifah kedua Umar

bin Khatthab radhiallaahu anhu ketika memimpin shalat

shubuh juga selalu membaca surat-surat yang bilangan

ayatnya lebih dari 100 ayat seperti surat Al Kahfi (

11halaman), surat Maryam ( 7halaman) dan surat Thaha

(10 halaman).



Begitulah generasi Qur'ani sangat mencintai Al-Qur'an.

Mereka tidak pernah merayakan peristiwa Nuzulul Qur'an

tetapi shalatnya membaca ratusan ayat, sementara kita

sebaliknya.



Shalat tarawih di jaman salaf rata-rata membutuh-kan

waktu 5 jam, dan kadang-kadang semalam suntuk, yang

berarti setiap satu rakaat tarawih (dari sebelas

rakaat) membutuhkan waktu 40 menit. Bahkan para

sahabat banyak yang shalat sambil bersandar dengan

tongkat karena terlalu lamanya berdiri.



Mengkhususkan Membaca Al-Qur'an

Para tabi'in dan tabi'ittabi'in, karena begitu

memahami arti dari Ramadhan, bulan Al-Qur'an, dan

begitu kuatnya dalam mencintai Al-Qur'an, maka bila

bulan Ramadhan tiba mereka mengkhususkan diri untuk

membaca Al-Qur'an seperti yang dilakukan oleh Imam

Az-Zuhri dan Sufyan Ats-Tsauri. Sehingga dalam satu

bulan khatam Al-Qur'an berpuluh puluh kali. Imam

Qatadah umpamanya, di luar Ramadhan khatam setiap

tujuh hari, di dalam Ramadhan khatam setiap tiga hari,

dan di sepuluh hari terakhir khatam setiap hari.

Sementara Imam Syafi'i di luar Ramadhan setiap hari

khatam sekali, dan di dalam Ramadhan setiap hari

khatam dua kali. Itu semua di luar shalat.



Begitulah ulama Ahlus Sunah tidak pernah merayakan

Nuzulul Qur'an, namun setiap hari khatam Al-Qur'an,

ada yang sekali dan ada yang dua kali. Sementara kita

sebulan Ramadhan jika khatam sekali saja maka sudah

puas dan gembira. Itupun bisa dihitung dengan jari.



Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah selama di dalam

penjara, dari tanggal 7 Sya'ban 726 H sampai wafatnya

22 Dzulqa'dah 728 H, selama2 tahun 4 bulan beliau

telah mengkhatamkan Al-Qur'an bersama saudaranya

Syeikh Zainuddin Ibnu Taimiyah sebanyak 80 kali

khatam, yang berarti rata-rata setiap 10 hari khatam

satu kali. Semoga Allah merahmati kita bersama mereka

dan semoga kita bisa meneladani Rasulullah n, dan para

sahabatnya, dan para ulama salaf dalam mencintai

Al-Qur'an dan di dalam tata cara ibadah lainnya. Amin.

Penulis: (Abu Hamzah As-Sanuwi,LC, M.Ag)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MASUKAN APAPUN SANGAT BERHARGA UNTUK KAMI...SYUKRON..!