Jumat, November 25, 2022

Awal Masuk Pintu Jin Adalah Merasa Paling Menderita Kurang Bersyukur

 SI PALING MENDERITA DI DUNIA


Manusia seringkali merasa dirinya adalah si paling menderita di dunia. Badai kehidupan yang datang bertubi-tubi membuatnya merasa tak sanggup untuk hidup lagi.


Si paling menderita di dunia ini secara psikologi diistilahkan sebagai penderita victim syndrome atau victim mentality.


Victim syndrome atau victim mentality adalah kondisi di mana seseorang merasa dirinya adalah korban dari segala situasi dan kondisi yang terjadi di sekitarnya. 


Secara konsisten ia akan menyalahkan orang lain atau situasi yang sedang terjadi dan merasa tidak memiliki kontrol atas masalah yang dihadapi.


Ia akan berusaha menarik perhatian orang lain dengan menunjukkan bahwa hanya dirinyalah yang paling menderita hingga tak sanggup lagi untuk menghadapinya. 


Ia tidak peduli jika terus-menerus mengatakan hal-hal negatif pada diri sendiri hingga berdampak buruk pada kesehatan mental. Yang penting baginya hanyalah mendapatkan simpati dari orang lain.


Bila si paling menderita di dunia ini dibiarkan, maka ia akan terus terjebak dengan masalah yang diciptakannya sendiri, yang pada gilirannya akan menghancurkan diri dan membuat depresi.


Islam telah memberikan panduan nyata bagaimana menjalani kehidupan di bumi ini melalui Alqur’an. Banyak kisah dalam Alqur’an yang memberikan gambaran “penderitaan” yang harus dilalui para Anbiya dan mereka bisa melaluinya atas izin Allah.


Begitupun kisah para sahabat dan orang-orang sholeh. Salah satunya adalah yang dialami Urwah Bin Zubair.


Suatu kali ia diutus untuk menemui Walid bin Abdul Malik. Dalam perjalanan itu, putra kesayangan yang menyertainya terjatuh dan terinjak kuda hingga wafat. 


Tidak berlarut dalam kesedihan, ia segera melanjutkan perjalanan untuk menyelesaikan tugasnya. Baginya, Allah mengambil sesuatu darinya, pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik.


Ternyata ujiannya belum usai. Sekembali dari perjalanan itu, dikisahkan kakinya terluka hingga infeksi dan harus diamputasi supaya tidak membusuk.


Untuk mengurangi rasa sakit saat diamputasi, beberapa orang menyarankannya untuk minum khamr, yang dijawabnya, “Demi Allah, aku tidak akan memanfaatkan sesuatu yang diharamkan oleh Allah hanya karena ingin sembuh.”


Usai pemotongan kaki yang luar biasa sakit karena dilakukan dalam keadaan sadar, ia mengucap syukur seraya berkata, “Demi Allah, selama 40 tahun aku belum pernah melangkahkan kaki ke tempat haram dan aku bersyukur bisa mengembalikan kakiku kepada Rabbku dalam keadaan suci.”


Allahu akbar!


Ujian yang dialaminya itu datang bertubi-tubi dalam satu rangkaian waktu. Namun demikian tak membuatnya merasa menjadi si paling menderita di dunia. 


Percayalah, tak ada manusia yang benar-benar menderita di dunia ini, karena yang menuliskan takdir adalah Yang Maha Benar, Maha Memberi, dan Maha Menyayangi. 


Senin, Oktober 31, 2022

BOLEH PASANG TARIF KAFALAH RUQYAH ???

 Dalil Boleh ambil upah(kafalah) dari Ruqyah:

Dalam Hadist Rasulullah:

Sahabat Abu Said Al Khudri radhiallahu ‘anhu mengisahkan bahwa ia bersama sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melintasi satu kabilah Arab Badui, dan ternyata mereka enggan untuk memberikan jamuan. Di saat para sahabat Nabi sedang beristirahat, tiba-tiba kepala suku penduduk kampung tersebut disengat oleh binatang berbisa. Tak ayal lagi, penduduk kampung tersebut berupaya sekuat tenaga untuk mengobati kepala suku mereka. Akan tetapi, upaya yang mereka lakukan semuanya sia-sia, tidak mendatangkan hasil. Akhirnya mereka menjumpai para sahabat yang sedang beristirahat dan berkata, “Adakah bersama kalian obat atau seorang yang ahli menjampi-jampi?” Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh para sahabat untuk membalas perilaku penduduk kampung yang tidak simpatik terhadap mereka. Para sahabat berkata, “Sesungguhnya kalian tidak sudi menjamu kami, maka sekarang kami pun tidak sudi untuk menjampi-jampinya kecuali jika kalian memberi kami upah.” Tanpa menunda panjang, mereka pun setuju dan menjanjikan upah beberapa ekor kambing.

Akhir kisah, setelah disepakati upah yang dijanjikan, sebagian sahabat, yaitu Abu Sa’id Al Khudri meruqyah dengan bacaan Al Fatihah sebanyak tujuh kali. Tanpa butuh waktu yang lama, kepala suku itu segera sembuh seakan terbebas dari belenggu yang melilit tubuhnya.

Setelah upah berupa beberapa ekor kambing diterima, segera sebagian sahabat mengusulkan agar upah itu dibagi merata di antara mereka. Akan tetapi Abu Sa’id tidak menerima usulan ini, dan berkata, “Janganlah kalian terburu-buru untuk membaginya, hingga kita menanyakan perihal upah ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Setiba mereka di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, segera mereka menceritakan perihal upah tersebut. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanggapi kisah mereka dan upah yang mereka dapat dengan bersabda, “Dari mana engkau mengetahui bahwa surat Al Fatihah dapat dijadikan untuk menjampi-jampi? Kemudian beliau melanjutkan sabdanya dengan berkata: kalian telah berbuat benar, bagilah upah itu, dan sertakan aku dalam pembagian upah yang kalian dapatkan.” (Muttafaqun ‘alaih) 

Pada riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sesungguhnya hal yang paling layak untuk engkau pungut upah atasnya ialah kitabullah”.

Imam An Nawawi berkata: “Pada hadits ini terdapat penegasan bolehnya mengambil upah dari menjampi-jampi dengan bacaan Al Fatihah dan bacaan dzikir lainnya. Upah ini halal, dan tidak makruh. Demikian juga halnya dengan upah mengajarkan Al Qur’an. Inilah pendapat yang dikemukakan oleh Imam As Syafi’i, Malik, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan ulama’ terdahulu lainnya. Adapun Imam Abu Hanifah melarang upah dari mengajarkan Al Qur’an dan membolehkan upah menjampi-jampi.” (Syarah Shahih Muslim oleh Imam An Nawawi14/188)

Ibnu Hajar Al Asqalani juga menarik kesimpulan yang sama dengan yang ditegaskan oleh Imam An Nawawi. Beliau berkata, “Pada hadits ini terdapat penegasan bolehnya mengambil upah dari menjampi-jampi dengan bacaan Al Qur’an dan juga bacaan dzikir dan doa lainnya yang telah diajarkan atau tidak diajarkan, asalkan tidak menyelisihi bacaan yang telah diajarkan.” (Fathul Bari oleh Ibnu Hajar Al Asqalani 4/457)



KONSUL RUQYAH;
OWNER MARI (MAJELIS RUQYAH INDONESIA)
083813594681

Minggu, September 04, 2022

Pasrah dengan Keadaan?BBM Naik Sikapin Gimana?

 Harga-Harga Naik, Sabar Saja, Jangan Ngeluh!🌸🍃



Beredar meme yg memuat sebuah hadits agar kita tidak mengeluh atas kenaikan harga, cukup sabar dan tawakal. 


Haditsnya tentu benar yaitu mengajarkan sabar. Tapi Sabar Tidak boleh kritis dan bukan pula boleh kritis. Itu menempatkan hadits bukan pada tempatnya. 


Al Qur'an sendiri merinci sifat orang-orang yang sabar itu: tidak lemah, tidak lemah, dan tidak tinggal diam. (QS. Ali Imran: 146) 


📌 Di sisi lain, seharusnya pembuat meme tersebut tidak bisa berbuat adil dan sportif, jangan hanya menuntut rakyat untuk mengeluh, tapi juga mengingatkan jangan lupa mengingatkan/penguasa dengan hadits:


اللَّهُمَّ لِيَ اً ارْفُقْ . لَيْهَا اشْفُقْ لَيْهِ. ا لم.


_"Ya Allah, siapa saja yang memimpin/mengurus urusan umatku ini, yang kemudian ia sayangi mereka, maka sayangilah ia. Dan siapa saja yang menyusahkan mereka, maka SUSAHKANLAH DIA."_


(HR.Muslim no.1828)


📌 Jangan sampai ke pembuat meme ini seperti yg digambar Rasulullah:


ا ابُ لَا لُ لِلظَّالِمِ ا الِمُ .


_"Jika kau melihat umatku ketakutan dan tidak berkata kepada orang zalim "Wahai Zalim" maka Allah akan meninggalkan mereka."_


(HR. Ahmad, Al Bazar, Al Hakim, beliau nyatakan: shahih. Disepakati Adz Dzahabi)


Sungguh menasehati kebijakan pemimpin yang keliru adalah salah satu perkara penting dalam Islam, sebagaimana hadits:


الدِّينُ النَّصِيحَةُ لْنَا لِمَنْ الَ لِلَّهِ لِكِتَابِهِ لِرَسُولِهِ لِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ امَّتِهِمْ.


_"Agama itu adalah nasihat." Kami bertanya, "Nasihat untuk siapa?" Beliau menjawab, "Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan para pemimpin kaum muslimin, serta kaum awam mereka."_


(HR.Muslim no.55)


Imam Al Khathabi menjelaskan bahwa NASIHAT itu tonggak dan tiangnya agama. Beliau Rahimahullah mengomentari hadits makna tersebut : 


الْحَدِيث : اد الدِّين امه ال. لِهِ : الْحَجُّ اده .  


_"Makna hadits (agama adalah nasihat) adalah: tiang agama dan penyangganya adalah nasihat. Ini seperti sabdanya: haji adalah 'arafah artinya tiang dan ang paling penting dari haji adalah (wukuf) di Arafah.”_


(Dikutip An Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 1/144)  


Maka, siapa pun yang menasihati kesalahan pemimpin dengan cara, argumentatif, maka dia santun terhadap agama. 


Kebalikannya, selalu menjadi pembela kebijakan yang salah dan mencekik dengan berbagai dalil-dalil, tidak peduli atau salah, asal bela saja, adalah perilaku menjilat yang terlarang. 


Nabi Shalallahu'Alaihi wa Sallam mengatakan:


«اسْمَعُوا، لْ اءُ؟ لَ لَيْهِمْ انَهُمْ لَى لْمِهِمْ لَيْسَ لَسْتُ لَيْسَ ارِدٍ لَيَّ الحَوْضََ»


_"Dengar, apakah Anda telah mendengar bahwa sebelumku nanti akan ada para pemimpin. Siapa yang kepada mereka, membenarkan kedustaan ​​mereka dan mendukung kezaliman mereka, maka dia bukan golonganku, aku juga bukan masuk golongannya. Dia juga tidak akan menemuiku di telaga." _


(HR. At Tirmidzi no. 2259, An Nasa'i no. 4208, Shahih)


Demikian. _Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thariq_.



Ust. H. Farid Nu'man Hasan